Tes PCR di Atas Harga Maksimal? Kemenkes: Laporkan! Luar Jawa Dipatok Rp 525 Ribu

0
88
Kementerian Kesehatan RI sudah menetapkan harga baru tes PCR (polymerase chain reaction) maksimal Rp 495 ribu untuk Jawa-Bali dan Rp 525 ribu di luar Jawa Bali.
Kenyataannya, masih banyak klinik maupun fasilitas kesehatan (faskes) yang belum menurunkan harga.
Pantauan detikcom, ada beberapa faskes yang sama sekali belum memenuhi ketentuan harga maksimal dari Kemenkes.
Sebagian berdalih karena ada biaya administrasi. Padahal, harga maksimal yang ditetapkan Kemenkes sudah termasuk komponen tersebut.
Ada juga klinik yang menyediakan harga sesuai ketetapan, dengan jaminan hasil keluar dalam waktu 1×24 jam atau next day. Namun klinik yang sama juga menyediakan harga yang lebih mahal alias ‘premium’ bagi yang membutuhkan hasil lebih cepat, misalnya cukup 4 jam.
Direktur Jendral Pelayanan Kesehatan Kemenkes, Prof Abdul Kadir, SpTHT(K), MARS, menyarankan untuk melapor jika masih menemukan harga tes PCR di atas ketentuan. Teguran akan diberikan oleh dinas kesehatan masing-masing sebagai pihak yang mengeluarkan izin.
“Tentunya ini bertingkat, dari teguran pertama, kedua, sampai teguran ketiga. Kalau memang tetap tidak mau mengikuti itu, terpaksa izinnya dicabut oleh Dinas Kesehatan,” kata Prof Kadir.
‘Tes gratis’ juga perlu diperbanyak
Ketentuan harga maksimal tes PCR sebenarnya berlaku hanya untuk tes PCR mandiri yang dilakukan atas kemauan sendiri. Termasuk di antaranya, untuk keperluan beraktivitas seperti bepergian atau mengikuti acara tertentu.
Sedangkan untuk keperluan contact tracing atau penelusuran kasus, tes PCR di fasilitas kesehatan yang telah ditentukan sama sekali tidak dikenai biaya alias gratis. Ini juga berlaku bagi kasus rujukan yang mengalami gejala mengarah ke COVID-19.
Tes PCR ‘gratis’ seperti inilah yang sebenarnya tidak kalah penting untuk ditingkatkan, baik jumlah maupun kecepatanannya, bila ingin memperbanyak testing hingga memenuhi standar organisasi kesehatan dunia WHO.
Drelawan Lapor COVID-19, Amanda Tan, dalam sebuah diskusi daring menyoroti ketimpangan testing di berbagai daerah. Tidak meratanya akses testing berdampak pada banyaknya kasus under reported.
“Memang jumlah testing yang terjadi sekarang masih fokus di pulau Jawa-Bali. Bahkan Jakarta menjadi salah satu provinsi yang melampaui batas minimum dari standar PCR testing yang diajukan provinsi untuk kemudian dieksekusi oleh masing-masing provinsi,” katanya.
*detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here