Sejarah Benteng Tatas Cikal Bakal Berdirinya Masjid Raya Sabilal Muhtadin

0
170
Banjarmasin – Salah satu masjid kebanggaan masyarakat Kota Banjarmasin khususnya dan masyarkat Kalimantan Selatan pada umumnya yaitu Masjid Raya Sabilal Muhtadin.
Masjid ini mempunyai sejarah yang panjang menjadi tempat ibadah yang megah dan berdiri ditengah kota Banjarmasin.
Letak masjid yang berhadapan dengan Sungai Martapura dan kemudian dikelilingi oleh lintasan sungai Tatas yang menyimpan sejarah dan misteri yang tersembunyi, sebagai saksi bisu perjuangan masyarakat bumi Lambung Mangkurat dalam mempertahankan diri dari penjajahan dan invasi bangsa Eropa dalam hal ini bangsa Belanda.
Sebelum menjadi Masjid yang megah seperti sekarang Masjid Raya Sabilal Muhtadin adalah sebuah Benteng besar tempat tinggal tentara Belanda yang dikenal di kalangan Bangsa Eropa dengan Fort Van Tatas.
Benteng ini dikelilingi oleh Sungai/kanal Tatas yang seolah membentuk pulau mengelilingi benteng Tatas, diawali invasi bangsa Eropa Pada tahun 1606, armada dagang dari kamar dagang Kerajaan Belanda, (VOC)  atau “Verenigde Oost Indiche Compagnie”
Kedatangan VOC mengunjungi Banjarmasin menjadi titik awal tertarik nya belanda akan kekayaan alam Kalimantan akan hasil rempah dan hasil alam berupa batu bara dan minyaknya.
Dengan alasan membuka jalur perdagangan dijalur Nusantara melalui Kalimantan mereka membangun benteng besar untuk mereka tinggal, hingga tahun pada 1 Oktober 1709 dengan struktur bangunan beton sebagai menara pantau menghadap ke Sungai Martapura, dan dua benteng menghadap ke tanah.
Dari Fort Tatas ini menjadi pusat pemerintahan kolonial Belanda alias titik nol dalam mengontrol wilayah kekuasaan yang mencakup wilayah Kalimantan Tengah, Tenggara dan Selatan.
Hingga berakhir perang dunia ke II dan di Proklamirkannya Indonesia menjadi negara kesatuan yang merdeka dan bergabungnya Kalimantan Selatan menjadi bagian wilayah RI, maka otomatis tentara Belanda yang mendiami benteng ini kembali kenegara asalnya, hingga akhirnya dibentuk pemerintahan daerah kalimantan selatan yang dipimpipin oleh Gubernur yang kantornya terletak di Pinggir Sungai Martapura tepatnya di Jalan Jendral Sudirman atau sekarang titik O Km Banjarmasin (sebelum pindah ke Banjar Baru).
Lahan kosong bekas benteng tersebut menarik perhatian para pemuka agama dan para pejabat untuk membangun sebuah Masjid sebagai syiar Islam dan sebagai tempat ibadah yang melambangkan Islam sebagai ciri dari masyarakat Banjar yang kental budaya Islamnya.
Mereka sepakat membulatkan tekad untuk membangun sebuah Masjid Raya yang berfungsi sebagai Pusat Kegiatan Islam dalam arti luas bertempat di Kota Banjarmasin.
Setelah pemilihan lokasi ini disepakati dengan bantuan perancanaan team ahli dari ITB Bandung dilakukan peletakan batu pertama oleh Bapak H. Aberani Sulaiman (Gubernur) dan Bapak Amir Machmud (Pangdam X) sebagai titik awal yang dicita-citakan pada tahun 1964.
Namun karena beberapa hambatan, seperti meletusnya G 30/S PKI dan mutasinya beberapa pejabat penting, tokoh penggerak, rencana pembangunan Masjid Raya ini tertunda. Baru tahun 1974, rencana pembangunan Masjid Raya dimulai kembali, oleh Bapak Gubernur Soebardjo tanggal 10 November 1974.
Untuk pertama, pada tanggal 31 Oktober 1979, Masjid Raya dipergunakan umat Islam untuk kegiatan Idul Adha 1344 H. Pada pembangunan selanjutnya diperlukan dana yang besar, maka dibentuk panitia pengumpul dana dengan Ketua KH. Hasan Moegni Marwan dan Sekretaris H.M. Rafi’i Hamdie dan sejumlah tokoh masyarakat Banjarmasin.
Kemudian cita-cita masyarakat Islam Kalimantan Selatan akan terbangunnya Masjid Raya yang monumental telah terwujud dan menjadi kenyataan. Dengan gema takbir beriringan gema beduk dan sirene, Presiden Soeharto meresmikan pemakaiannya tanggal 9 Februari 1981 dengan nama Masjid Raya Sabilal Muhtadin untuk difungsikan sebagai pusat kegiatan Islam daerah Kalimantan Selatan.
Penggunaan nama Masjid Sabilal Muhtadin adalah sebagai penghormatan untuk ulama besar Kalimantan  Selatan dan panutan masyarakat Banjar yaitu Datu Pelampaian atau Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari, penamaan Masjid raya ini sesuai dengan kitab Karangan Beliau yang termasyur keseluruh dunia yaitu Kitab Sabilal Muhtadin.
Masjid ini telah menjadi syiar Islam dan sangat bermanfaat buat umat Islam, banyak tokoh-tokoh ulama dari pulau Jawa, Sumatera dan daerah lainnya di Nusantara bahkan dari luar negeri yang tausiah dan mengadakan mengadakan pengajian tetap di masjid ini, seperti KH. Ahmad Bakri (Alm), KH. Husin Nafarin, KH. Zuhdiannoor dan banyak lagi ulama Banjar yang pernah tausiah di Masjid ini.
Barakallah, Sungguh banyak manfaatnya bagi umat Islam, semoga para pendiri dan para donatur untuk pembangunan masjid ini diberikan ganjaran dari Allah atas jasa mereka membangun tempat ibadah…….Aamiin.
Tulisan ini saya persembahkan untuk menghormati dan sebagai rasa cinta dan kebanggan anak Banjarmasin pada Masjid Raya Sabilal Muhtadin.
Pabaungan Hulu,  07 Maret 2021
Ardiansyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here