Pawang Hujan Berteknologi Modern Kini Ada Di Tanah Bumbu

0
739

Tanah Bumbu – Kerjasama riset teknologi rekayasa curah hujan ini tertuang dalam Memorandum Of Understanding (MOU) antara PT.Borneo Indo Bara dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Republik Indonesia yang dilaksanakan di Kantor PT.Borneo Indo Bara (BIB) Site Angsana,Kecamatan Angsana,Tanah Bumbu Jum’at ( 13/7) pagi

Penandatanganan Nota Kesepahaman Kerjasama riset rekayasa curah hujan dengan metode penyemaian awan dari darat ini, disaksikan langsung Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) RI, Dr.Ir. Unggul Priyanto, M.Sc.

Ground Particle Generator (GPG) adalah  sebuah alat untuk memodifikasi intensitas curah hujan,dimana alat ini bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan awan sehingga menurunkan intensitas hujan.

Ir.Pitoyo Sudibyo,M.Sc selaku Perekayasa/inventor dari Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi RI,menjelaskan,alat ini mengeluarkan partikel yang akan membuang uap air yang ada disekitar, butiran awan menghambat tumbuhnya awan baru.

“ Uap yang dihasilkan dari pembakaran larutan higroskopis dari tungku elpiji pada Ground Particle Generator ini mengandung partikel-partikel sangat kecil dengan ukuran 0,1-0,3 mikron yang akan mengikat uap air dan mempersulit terbentuknya awan yang berpotensi hujan,”jelas Pitoyo

Pitoyo menambahkan,alat rekayasa curah hujan ini sudah digunakan diantaranya pada Sea Games beberapa tahun lalu.alat ini juga digunakan untuk mengurangi intensitas curah hujan pada  banjir Jakarta tahun 2014 .

“Untuk di kawasan area tambang PT.BIB site angsana ini, kita sudah memasang alat ini di 6 titik,dan nantinya akan kita pasang satu alat lagi,sehingga nantinya ada 7 titik,jelasnya

Baca juga : (Videonews) PT.BIB  Bangun Rumah Tahfidz Di Tanah Bumbu

Baca juga : Warga Terdampak Banjir Di Angsana Terima Bantuan Logistik Dari PT.Borneo Indo Bara

Pada kesempatan ini dilakukan demo penggunaan  Generator Partikel Darat (GPG) ini dihalaman kantor PT.Borneo Indo Bara yang disaksikan langsung Kepala BPPT RI dan Manajemen PT.Borneo Indo Bara,Site Angsana.

Sementara itu,Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)  RI, Dr.Ir.Unggul Priyanto, M.Sc,menyambut baik adanya kerjasama riset teknologi rekayasa curah hujan ini,menurut Unggul,metode penyemaian awan ini berbeda dengan metode yang telah biasa digunakan.

“ Teknologi ini baru dibidang rekayasa curah hujan,jika biasanya rekayasa curah hujan dilakukan dari  udara,yang tentu dengan biaya yang cukup tinggi,maka teknologi GPG ini justru sebaliknya ,yakni  melalui  darat,ini sebuah teknologi yang terus akan kita kembangkan kedepan ,” imbuhnya.

Unggul berharap riset teknologi rekayasa cuaca  ini kedepan akan mampu memberikan dalam rekayasa curah hujan khususnya diarea konsesi tambang batubara PT Borneo Indo Bara ,Site Angsana,Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Kepala Teknik Tambang PT.Borneo Indo Bara  Site Angsana,Riadi Simka Pinem,mengatakan PT.BIB adalah perusahaan pertama yang akan menerapkan teknologi penghambat hujan  ini khususnya di area tambang perusahaan.

Cuaca ini agak sulit diprediksi, bahkan beberapa pekan lalu sempat terjadi banjit yang disebablan tingginya curah hujan,ini juga akan mengganggu aktifitas penambangan,

“ Kalau riset  ini sukses maka akan menjadi kabar baik bagi perusahaan  lain dan tidak menutup kemungkinan dapat dimanfaatkan bagi kepentingan publik,seperti penanganan banjir yang disebabkan curah hujan yang tinggi.Kita berharap dalam 3 bulan kedepan riset yang dilakukan ini akan membuahkan hasil yang menggembirakan yang akan dilanjutkan dengan alih pengetahuan dan teknologi alat ini,jelasnya

(Al/wtol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here