Maulid Nabi,33 Akhlak Rasulullah Yang Perlu Diteladani

0
108
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar umat Islam tiap tanggal 12 Rabiul Awal merupakan sarana untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW.
Meneladani akhlak Rasulullah SAW ini selalu yang ditekankan para penceramah dalam tiap peringatan Maulid Nabi SAW. 
Tahun ini, peringatan Maulid Nabi SAW bertepatan Selasa, 19 Oktober 2021. Tujuan dalam melaksanakannya adalah dalam rangka menampakkan kegembiran atas kelahiran Sang Nabi mulia.
Pengungkapan rasa gembira itu memang dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan anugerah dari Tuhan. Sebagaimana firman Allah SWT :
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), sebab fadhal dan rahmat Allah (kepada kalian), maka bergembiralah kalian. (QS Yunus, 58).
Diutusnya Rasulullah tidak lain untuk memperbaiki akhlak manusia. Masyarakat Arab jahiliah waktu itu seolah tidak mengenal akhlak. Mereka memperlakukan budak seenaknya dan merendahkan martabat perempuan.
Dalam Alquran disebutkan uswah atau teladan yang baik pada diri Rasulullah SAW untuk dicontoh semua umatnya.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab: 21)
Ayat yang mulia ini merupakan dalil pokok yang paling besar, yang menganjurkan tiap Muslim agar meniru Rasulullah Saw. dalam semua ucapan, perbuatan, dan sepak terjangnya.
Karena itulah Allah SWT memerintahkan kepada kaum mukmin agar meniru sikap Nabi SAW dalam Perang Ahzab, yaitu dalam hal kesabaran, keteguhan hati, kesiagaan, dan perjuangannya, serta tetap menanti jalan keluar dari Allah SWT.
Dijelaskan sendiri oleh Nabi SAW dalam satu riwayat Hadis Sahih:
 
عَنْ أَبِي هُرَيرة قَالَ: قَالَ رسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّمَا بُعِثتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ“.
Dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda: Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang baik.
Karena itu, sudah semestinya umat Islam yang merupakan umatnya Nabi Muhammad.
Berikut 33 akhlak Rasulullah SAW yang harus diteladani umat Islam.
1. Akhlak Nabi SAW adalah Alquran
Ibnu Qatadah pernah bertanya kepada Aisyah ra tentang akhlak Rasulullah Saw. Maka Aisyah menjawab: كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ Akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Quran.
Makna yang dimaksud dari kesemuanya ini menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. adalah seorang yang mengamalkan Al-Quran; mengamalkan perintahnya dan manjauhi larangannya, yang hal ini telah tertanam dalam diri beliau sebagai watak dan pembawaannya serta sebagai akhlak yang telah terpatri dalam sepak terjang Nabi Muhammad SAW.
Hal ini di samping watak yang dibekalkan oleh Allah dalam diri beliau berupa akhlak yang besar seperti sifat pemalu, dermawan, berani, pemaaf, penyantun, dan semua akhlak yang terpuji.
2. Tidak Pernah Membentak
Sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Sahihain, dari Anas yang telah mengatakan: “Aku menjadi pelayan Rasulullah Saw selama sepuluh tahun, dan beliau sama sekali belum pernah membentakku dengan kata, “Husy!”
Dan belum pernah mengatakan terhadapku tentang sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan, “Mengapa engkau melakukannya?” Dan tidak pula terhadap sesuatu yang seharusnya kulakukan, “Mengapa tidak engkau lakukan?”.
3. Tidak Pernah Memukul
Diriwayatkan dari Siti Aisyah ra yang telah mengatakan Rasulullah Saw sama sekali belum pernah memukulkan tangannya kepada seorang pun dari pelayannya, dan belum pernah memukul seorang pun dari istri (beliau), dan belum pernah memukulkan tangannya kepada sesuatu pun kecuali bila dalam berjihad di jalan Allah.
4. Tidak Pernah Mencela
Nabi SAW tidak pernah ambigu dan selalu memilih perkara yang paling disukai dan paling ringan di antara keduanya terkecuali bila (yang ringan itu) berupa dosa.
Maka jika hal itu berupa dosa, maka beliau adalah orang yang paling menjauhinya. Dan Nabi SAW tidak pernah melakukan suatu pembalasan yang pernah ditimpakan kepada dirinya, melainkan bila batasan-batasan Allah dilanggar, maka Nabi SAW baru melakukan pembalasan dan itu hanyalah karena Allah SWT.
5. Tidak Pernah Membalas Perbuatan Buruk
Baginda Nabi SAW juga tidak pernah melakukan suatu pembalasan yang pernah ditimpakan kepada dirinya, melainkan bila batasan-batasan Allah dilanggar, maka Nabi SAW baru melakukan pembalasan dan itu hanyalah karena Allah SWT.
6. Bila menjabat tangan seseorang, Rasulullah SAW tidak pernah melepaskan tangannya terlebih dahulu. 
7. Bila berjalan, Nabi Muhammad SAW tidak pernah menyeret kaki sandalnya sampai berbunyi. 
8. Bila berbicara dengan sahabat, Rasulullah SAW menanggapinya sepenuh hati hingga setiap orang merasa mendapatkan perlakuan khusus.
9. Rasulullah SAW tidak bangkit terlebih dulu bila sedang duduk bersama seseorang.
10. Rasulullah SAW langsung menyambut jika dihampiri seseorang meski sedang duduk. 
11. Rasulullah SaW langsung membalikkan tubuhnya ketika dipanggil seseorang.
12. Rasulullah SAW sangat menghormati tamu. Jika ada tamu yang datang dan hendak pulang, Nabi SAW mengantarkannya hingga ujung jalan.
13. Nabi Muhammad SAW mengambil makanan yang terdekat jika menghadiri jamuan makan. 
14. Nabi Muhammad SAW mengundang orang-orang miskin dan janda serta tetangga terdekat memintakan doa dari mereka jika hendak bepergian.
15. Rasulullah SAW tidak pernah bersendawa maupun mengeluarkan suara jika sedang makan baik sendirian maupun bersama sahabatnya.
16. Rasulullah SAW tidak pernah memanggil seseorang dengan nama julukan.
17. Rasulullah SAW selalu menjenguk sahabatnya jika sedang sakit meskipun lokasinya jauh.
18. Rasulullah SAW mengambil tempat duduk yang kosong dan tidak memilih atau meminta tempat khusus jika menghadiri pertemuan.
19. Rasulullah SAW makan paling akhir jika menjadi tuan rumah agar tamu tidak sungkan. Setelah semua tamu makan, baru Rasulullah SAW makan.
20. Rasulullah SAW selalu mengajak siapa pun yang melintas depan rumahnya untuk menjadi teman makannya.
21. Jika sedang mengimami sholat, Rasulullah SAW membaca surat pendek dari Alquran ketika mendengar suara tangis bayi dan anak.
22. Rasulullah SAW jika terhebur hanya tersenyum dan tidak pernah tertawa terbahak-bahak hingga giginya kelihatan.
23. Rasulullah SAW tidur tanpa mendengkur sampai terlelap.
24. Rasulullah SAW selalu menghadap lawan bicaranya jika sedang berbincang dengan seseorang.
25. Nabi Muhammad SAW tidak pernah mencambuk kuda maupun unta yang dikendarainya.
26. Nabi Muhammad SAW tak pernah menyuruh istri melakukan hal-hal yang leluasa dilakukannya sendiri, seperti menjahit sandal dan menambal pakaian yang sobek.
27. Rasulullah SAW selalu menjawab dengan cepat tiap ada pertanyaan terlebih dari orang tidak mampu.
28. Rasulullah SAW bercerita jenaka di hadapan anak yatim.
29. Rasulullah SAW selalu menanamkan kejujuran dalam segala hal. Karena itu, Nabi SAW mendapat julukan Al Amin yang artinya orang yang dapat dipercaya.
Nabi SAW sebelum menjadi Rasul telah diberikan gelar Al-Amin  yang berarti dipercaya, sifat tersebutlah yang mengangkat posisi Nabi SAW pemimpin yang baik. 
30. Rasulullah SAW sangat bertanggung jawab kepada tugas dan kepercayaan dari segala aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, ataupun agama kepada Allah SWT.
32. Rasulullah SAW selalu menyampaikan atau tabligh tentang kebenaran dan tidak pernah menyebarkan hoaks.
Tabligh ini dijadikan pedoman dan dilaksanakan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Pedoman yang utama dan pokok aktivitas tabligh adalah amar ma’ruf nahi munkar. 
Firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 67 berikut:
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَالْكَافِرِينَ
Artinya:“Wahai rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (QS. al-Maidah : 67)
33. Rasulullah SAW sangat cerdas dalam memutuskan sebuah perkara
Salah satu bukti kecerdasannya pada kisah Rasulullah SAW di mana saat itu kelompok kabilah di Mekkah ingin meletakan batu hitam diatas Ka’bah. Cerdasnya Rasul menengahinya dengan cara kelompok memegang ujug kain, lalu meletakkan batu tersebut di tengahnya, dan semua mengangkat hingga di atas Ka’bah.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ
Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here