Kisah KH Ahmad Dahlan Lelang Barang Pribadi Untuk Bayar Gaji Guru Ngaji

0
78
Khazanah – Suatu malam di tahun 1921, selepas shalat Isya, KH Ahmad Dahlan menengadahkan tangannya, berdoa memohon petunjuk kepada Allah SWT karena organisasi yang didirikannya sekitar 9 tahun yang lalu mengalami kesulitan keuangan.
Akibat kondisi itu, Muhammadiyah belum bisa membayarkan gaji guru dan pegawai yang bekerja di Muhammadiyah.
Sebenarnya bisa saja KH Ahmad Dahlan meminta bantuan dari para pengusaha atau orang-orang kaya yang ada di sekitaran Kauman, Yogyakarta, Namun hal itu tidak sesuai dengan jiwa Muhammadiyah yang mandiri dan tidak bergantung pada bantuan orang lain.
Akhirnya, KH Ahmad Dahlan pun mendapatkan solusi supaya Muhammadiyah mendapatkan dana tanpa mengurangi wibawa organisasi.
Pagi hari saat matahari mulai memancarkan kehangatan, KH Ahmad Dahlan memukul kentongan di rumahnya untuk mengumpulkan orang orang sekitar.
Tak lama berselang, puluhan orang yang rata-rata pengusaha yang akan memulai aktivitasnya pun berkumpul.
KH Ahmad Dahlan pun memulai memberikan informasi bahwa saat ini Muhammadiyah sedang memerlukan dana sekitar 500 gulden untuk membayar gaji guru dan karyawan.
Dan untuk mendapatkan dana tersebut, KH Ahmad Dahlan bermaksud untuk melelang seluruh barang yang ada di rumahnya, dari baju, jas, jam, meja, kursi, perabotan rumah dan semua yang ada di rumah.
Orang-orang yang hadir pun terkejut, bahkan beberapa diantaranya tidak kuasa menahan haru.
‘Monggo dipun pilih barang ingkang sesuai kalih kebutuhan njenengan sedoyo (Silakan dipilih barang yang sesuai dengan kebutuhan anda semua)’ kata KH Ahmad Dahlan memulai penjualan barang-barang tersebut.
Para hadirin pun lalu berlomba membeli barang-barang tersebut dan langsung membayar kontan.
Namun uniknya setelah membayar mereka lalu berpamitan pulang tanpa membawa barang-barang tersebut.
‘Lha ini barang yang sudah dibeli nanti mau diantarkan ke rumah apa bagaimana?’ Tanya KH Ahmad Dahlan.
‘Ndak usah Pak Kyai, barang-barang itu kami kembalikan ke Pak Kyai’ jawab mereka hampir serempak.
‘Lah ini uangnya terkumpul 4000 gulden, sedangkan kami hanya perlu 500 gulden” lanjut KH Ahmad Dahlan.
‘Ya sudah simpan saja untuk kas Muhammadiyah Pak Kyai’ jawab salah satu hadirin mewakili yang lainnya.
“Matur nuwun sanget, insya Allah barakah, dana ini akan kami pergunakan untuk keperluan Muhammadiyah” KH Ahmad Dahlan pun menutup sesi mengharukan ini.
Sejarah lalu mencatat bahwa uang 4000 gulden yang diberikan dengan penuh keikhlasan dan dikelola dengan penuh amanah dan profesional berkembang menjadi berlipat ganda.
Bahkan 1 abad kemudian Muhammadiyah menjadi salah satu Organisasi terkaya di dunia, dengan aset tanah seluas 21 juta meter persegi, yang diatasnya berdiri tak kurang dari 19.951 sekolah dari TK sampai SMA, 13.000 Masjid dan Mushola, 457 Rumah Sakit dan klinik, 765 Bank Perkreditan Rakyat Syariah, 635 Panti Asuhan, 437 Baitul Mal, 176 Universitas dan 102 Pondok Pesantren di seluruh Nusantara.
Nilai atau valuasi asetnya sebesar 320 Triliun di luar dana likuid (dana siap pakai) sebesar 15 Triliun Rupiah.
Namun demikian, kekayaan ini tidak lalu membuat Muhammadiyah dan para pengurusnya hidup dalam kemewahan.
Muhammadiyah terus berkhidmat untuk kemaslahatan Ummat.
Anggota Muhammadiyah berpegang teguh pada pesan KH Ahmad Dahlan “Hidup hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah”.
*Referensi: muhammadiyah.or.id, karanganyar.aisyiyah.or.id dan beberapa sumber lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here