Jembatan Pulau Balang Penghubung Balikpapan – PPU 90 Persen Rampung

0
177
Kaltim – Jembatan Pulau Balang yang menghubungkan Kota Balikpapan dan Penajam Paser Utara. (PPU) disebut sebut sebagai Jembatan terpanjang kedua di Indonesia.
Jembatan ini akan menghubungkan Balikpapan dengan Ibu Kota Negara di Penajam Paser Utara Provinsi Kalimantan Timur.
Presiden Joko Widodo belum lama tadi telah mengumumkan Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur menjadi lokasi calon Ibu Kota Negara.
“Kini daya dukung infrastruktur, sedang digarap, akses dari kota penyangga ke kawasan Ibu Kota Negara,” kata presiden
Jembatan Pulau Balang yang juga akan menjadi salah satu infrastruktur penting dalam koridor Trans Kalimantan kini pembangunannya menunjukkan perkembangan konstruksi signifikan.
Saat ini, progres fisiknya telah mencapai 90,2 persen menuju rampung.
Jembatan Pulau Balang ini menghubungkan Balikpapan dengan Ibu Kota Negara ( IKN ) baru di Penajam Paser Utara.
Terbentang panjang sekira 1 Kilometer, jembatan ini akan menjadi akses darat utama menuju lokasi IKN, juga mempersingkat mobilitas orang dan barang di lintas selatan Kalimantan.
Namun begitu, pengerjaan proyek strategis nasional ( PSN ) yang telah diwacanakan sejak 2007 silam tak semulus yang dibayangkan.
Di luar dari anggaran, Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) XII, Ditjen Bina Marga, Junaidi mengatakan terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi
“Dari aspek sosial, status lahan yang belum bebas juga cukup berdampak pada kelancaran pekerjaan di lapangan,” ujarnya
Jembatan Pulau Balang digadang akan berdiri megah nan indah, terlebih jika dilihat dari lokasi Ibu Kota Negara baru, tepatnya di Kecamatan Sepaku.
Melihat potensi Jembatan Pulau Balang, BPJN berencana bakal mengusulkan pembangunan Beautifikasi di sekitar wilayah jembatan.
Anjungan cerdas dan taman sebagai tempat wisata, menjadi angan-angan ke depan untuk bisa menarik wisatawan di Benua Etam.
“Ini adalah PR kami, ingin di sisi Penajam maupun Tempadung arah Balikpapan, dibangun tempat rekreasi,” terangnya.
Junaidi mengklaim ini akan menjadi tempat reakreasi paling dekat antara Sepaku, Penajam Paser Utara dan Kota Balikpapan.
Wisatawan akan disuguhi dengan pemandangan laut dari perbukitan. Sedangkan dari sisi Penajam,terdapat pulau terdekat yang bisa digunakan sebagai penangkaràn
Dikenal dengan nama Pulau Buaya. Pulau kecil ini rupanya menjadi daya tarik eksotisme. Pasalnya jika cuaca panas banyak Buaya berjemur keluar dari perairan sekitaran pulau.
“Ini kelihatan dari atas jembatan. Jangan dihilangkan karena bisa dibuat penangkaran dan menjadi potensi wisata,” ungkapnya.
Ke depan wacana ini akan menjadi optimisme besar. Namun, saat ini Junaidi hanya berharap pembebasan jalan pendekat bisa lekas diselesaikan.
“Saya harap sekarang pembebasan lahan sisi Balikpapan cepat selesai, setelah itu baru kami usulkan rancangan ini,” pungkasnya.
Disebut sebagai Jembatan Terpanjang Kedua di Indonesia.
Sejak rencana pemindahan Ibu Kota Negara atau IKN ke Kaltim diumumkan, persiapan pembangunan infrastruktur pendukungnya terus menyedot perhatian.
Salah satu infrastruktur pendukung Ibu Kota Negara yang paling krusial adalah Jembatan Pulau Balang.
Jembatan ini merupakan salah satu bagian dari Master Plan Kementerian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat ( PUPR ) untuk mewujudkan jalur Trans Kalimantan.
“Semua pekerjaan sudah tuntas, 90,2 % progresnya,  tinggal 89 meter di bentang tengah,” ujar Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional atau Kepala BPJN XII Ditjen Bina Marga, Junaidi.
Jembatan yang terletak di hulu Teluk Balikpapan ini dibiayai oleh APBN tahun jamak 2015-2019, pusat mengguyur Rp 1,38 triliun membantu penyelesaian jembatan ini.
Pengerjaannya, terbagi mulai konstruksi bentang utama sepanjang 804 meter, jembatan pendekat sepanjang 167 meter, dan akses jalan 1.807 meter.
“Untuk menyambungkan 89 meter tadi butuh 9 kali pengecoran. Targetnya pertengahan Desember rampung. Selambatnya Januari dengan finishing,” ungkapnya.
Jembatan Pulau Balang yang digadang-gadang menjadi jembatan terpanjang kedua di Indonesia setelah Jembatan Suramadu dibangun oleh tiga kontraktor.
PT Hutama Karya (Persero)  (Hutama Karya ) selaku kontraktor yang melakukan Kerja Sama Operasi ( KSO ) dengan PT Adhi Karya (Persero) Tbk dan PT Bangun Cipta Konstruksi.
Tampak pembangunan jembatan Pulau Barang, tinggal sedikit lagi tersambung. (HO BPJN XII, Ditjen Bina Marga)
“Karena ini pekerjaan meanclosure (utama) sehingga tidak bisa cepat, sebab riskan,” katanya.
Jembatan setinggi 29 meter ini memiliki tipe Cable Stayed Bridge yaitu jembatan yang dibangun menggunakan kabel-kabel prategang berkekuatan tinggi untuk menahan beban jembatan.
Terdapat dua pylon / tiang jembatan setinggi 116 meter untuk menahan kabel-kabel tersebut dan 144 bore pile / tiang pancang sebagai penopang jembatan.
Tak tanggung-tanggung, lebar jembatan ini adalah 22,4 meter dengan 4 lajur serta dilengkapi dengan trotoar di samping kanan dan kiri.
Untuk mendukung akses menuju jembatan tersebut, dibangun pula jalan sepanjang 1.969 meter.
Jembatan Pulau Balang juga akan dilengkapi dengan teknologi Structural Health Monitoring System (SHMS) yang akan memantau kesehatan struktur konstruksi jembatan.
“Sebenarnya sudah tuntas, mulai dari pondasi, pemasangan pylon yang sulit, ovrit, tinggal yang tengah bagian Cable Stay, karena agak ribet,” jelasnya.
Sebagai informasi, jembatan Pulau Balang merupakan jembatan tipe Cable Stay dengan dek beton terpanjang di Indonesia.
Pada pekerjaan pondasi, digunakan peralatan bor dengan sistem reverse circulation drilling tipe airlift dan suction, untuk menyesuaikan dengan kondisi batuan dasar laut yang cukup keras.
“Jembatan ini tipenya bukan biasa, karena menganut desain Cable Stay. Supaya kapal bisa lewat, maka bentangnya lebarnya juga 400 meter. Kalau jembatan biasa setiap 100-150 meter ada tiang,” urai Junaidi.
Saat ini, kendaraan dari Balikpapan menuju Penajam Paser Utara- tujuan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, harus memutar 100 kilometer. Ini memakan waktu 5 jam perjalanan.
Dengan  jembatan tersebut, jarak Balikpapan – Penajam Paser Utara menjadi lebih pendek, hanya sekitar 30 kilometer. Waktu tempuh juga singkat hanya satu jam.
Sehingga, jika jembatan ini sudah 100 persen tersambung dan beroperasi secara penuh, maka konektivitas serta mobilitas orang dan barang di lintas selatan Kalimantan akan semakin lancar.
Sumber : TribunKaltim.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here