Gelar Haji Hanya di Nusantara? Simak uraiannya

0
35
Gelar Haji dan Hajjah sangat akrab dan populer pada masyarakat Banjar dan penduduk Indonesia umumnya.
Gelar ini resmi disandang oleh jamaah haji usai melaksanakan rangkaian ibadah haji. Terutama wukuf di Padang Arafah.
Gelar haji ini adalah gelar yang unik. Hanya ada di wilayah wilayah Asia, terutama Melayu Asia Tenggara. Sementara di luar negeri, di Arab Saudi atau negara negara yang berpenduduk masyoritas muslim lainnya jarang sekali terdengar pemakaian gelar Haji.
Dari berpuluh tahun lalu, gelar Haji selalu dipandang kontroversi dalam lintasan Sejarah. Urang Banjar yang menunaikan ibadah haji ke Mekah sudah berlangsung lama. Diperkirakan sekitar Abad ke -17 atau sekitar tahun 1600 an, Urang Banjar sudah berhaji.
Pada era itu, masih masanya Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) Belanda, tidak pernah melihat fenomena urang Banjar beraji sebagai komoditas politik.
Alasannya VOC era itu kedatangannya untuk berdagang. Bahkan ada yang berhaji dengan menumpang armada VOC. Bahkan disediakan kapalnya. Pemilik armada pun tidak pernah mempersoalkan karena secara ekonomis, membawa keuntungan.
Asal usul gelar haji di Tanah Banjar, meamng sangat sulit ditentukan kapan mulai ada, secara temporal atau kurun waktunya. Diduga pemakaian gelar haji adalah budaya masyarakat Melayu Banjar sebagai bagian penghargaan. Istilahnya adalah gelar yang lumrah sebagai apresiasi dari tingkat kesulitan yang telah mereka lalui hingga menyelesaikan ibadah haji tersebut.
Mulai dari pesiapan mengumpulkan modal hingga rangkaian ibadah haji yang memerlukan ketahanan fisik. Tetapi untuk dijadikan sebagai sesuatu yang prestis, kita perlu tahu seperti apa sejarah penisbatan nama Haji yang menjadi budaya di Indonesia hingga saat ini.
Sebagai perbandingan, pada masa lalu, naik haji sangat sulit, butuh perjalanan berbulan bulan dengan kapal laut. Belum lagi, banyak yang meninggal di perjalanan. Suatu ibadah maha berat kala itu. Perlu modal dan perjuangan. Tidak semua umat muslim di Tanah Banjar yang bisa berhaji pada era kolonial.
Haji sebagai bagian dari budaya, kemudian mengalami dinamika pada era kolonial. Beberapa dekade kemudian, pada 1859, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan ordonansi baru menyangkut urusan haji. Meski lebih longgar dari aturan sebelumnya, di sana-sini masih ada berbagai pengetatan.
Yang paling menonjol dari ordonansi baru ini adalah pemberlakuan semacam “ujian haji” bagi mereka yang baru pulang dari Tanah suci. Mereka harus membuktikan benar-benar telah mengunjungi Mekkah. Jika seseorang sudah dianggap lulus ujian ini, ia berhak menyandang gelar haji dan diwajibkan mengenakan pakaian khusus haji (jubah, serban putih, atau kopiah putih).
Terdapat versi pendapat dari sinilah sebenarnya dimulai penyematan gelar haji, juga atribut fisik yang melekat pada orang-orang yang sudah menunaikan rukun Islam kelima, kepada penduduk pribumi. Mengapa gelar haji wajib disematkan? Tujuan utamanya untuk mempermudah kontrol dan pengawasan terhadap para haji.
Pemerintah kolonial tak mau repot-repot mengawasi satu per satu haji di daerah-daerah. Jika ada pemberontakan berdasarkan agama meletus, pemerintah tinggal mencomot haji-haji di daerah tersebut. Segampang itu. Pengetatan dan kontrol haji memang terus berlangsung meski keterbukaan politik mulai diterapkan pemerintah kolonial pada awal abad 20.
Haji-haji di desa tetap diawasi dan pemimpin pergerakan yang bergelar haji (misalnya H.O.S Tjokroaminoto dan Haji Misbach) mendapatkan pengawasan ganda. Apalagi pemerintah mulai khawatir haji-haji ini mendapat pengaruh soal nasionalisme dan Pan-Islamisme ketika berada di Mekkah. Penyebaran Pan-Islamisme yang diusung Rasyid Rida dan kawan-kawan di Mesir memang sedang menemukan gaungnya di Hindia Belanda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here