Disinyalir Jadi Tempat Praktek Kemusyrikan,Tunggul Pohon Di Gunung Tinggi Akan Diratakan

0
405
Batulicin,WTol – Menindaklanjuti adanya laporan masyarakat yang mensinyalir adanya praktek penyimpangan akidah (kemusyrikan) yang kerap dilakukan warga di lokasi tunggul ‘pohon hamil’ di kawasan Darma Praja,Gunung Tinggi, Ketua FKUB Tanbu yang juga Kepala Badan Kesbangpol Tanbu bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan,perwakilan Bakorpakem,Camat dan Kepala Desa Sepunggur bersama Tokoh masyarakat langsung turun kelapangan.
Peninjauan kelokasi tersebut untuk melihat langsung kebenaran informasi yang menyebutkan dilokasi itu kerap digunakan praktek penyimpangan tersebut.
Baca Juga : Prorgram Kampung Iklim,Pemkab Tanbu Terima Apresiasi Proklim Dari Kementerian LHK Ri
Baca Juga : Sudian Noor Buka Rakerda MUI Tanbu 2019
Pantauan dilokasi tunggul pohon tersebut masih didapati beberapa bahan/barang sisa sesajen,seperti cangkang telur dan wadah tempat sesajen,tak hanya itu disekitar sisi pohon tersebut juga telah dibuatkan lantai keramik.
” Kita menunggu keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tanbu dulu,apakah aktifitas atau ritual warga tersebut memang menyimpang atau mengarah ke perbuatan musyrik,baru kita bisa menentukan langkah apa yang harus kita diambil tentu berkoordinasi dengan Bakorpakem,”jelas Darmiadi, Kepala Kesbangpol Tanbu,Selasa (8/10/19)
Baca Juga : Bahas Persoalan Umat,Pemkab Tanbu dan MUI Gelar Mudzakarah.
Darmiadi menambahkan,pihaknya juga akan berkoordinasi dengan pemilik lahan, mengingat lokasi tunggul pohon tersebut berada di atas lahan warga.
“Untuk sementara kita akan buatkan papan pengumuman/himbauan kepada masyarakat agar tidak menggunakan tempat ini melakukan ritual tertentu,”jelasnya
Tunggul pohon ulin tua berdiameter kurang lebih 2 meter yang berada dipinggir jalan Darma praja, Rt V Desa Sepunggur, Kecamatan Kusan Hilir memang kerap dikunjungi warga untuk melakukan aktifitas tertentu.
Baca Juga : Menyiapkan Batulicin Sebagai Kota Ramah Air
Menurut keterangan warga,keberadaan tunggul pohon ulin tersebut telah ada sejak puluhan tahun lalu dan warga yang berkunjung ketempat tersebut tidak hanya warga lokal namun juga dari luar Tanah Bumbu
Sementara itu,perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tanbu, M Hanafi,yang ikut langsung ke lokasi mengatakan,akan menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) MUI yang akan digelar 8 Oktober 2019.
” Kita akan mempelajari dulu, apakah memang praktek tersebut mengarah keperbuatan syirik, nanti akan ada keputusannya pada Rakerda nanti,”tuturnya.
Wtol

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here